Memulai Bisnis Ekspor di Indonesia

Menjalankan Bisnis Ekspor di Indonesia: Statistik dan Prosedurnya

Perdagangan internasional adalah salah satu industri panas di milenium baru. Tapi itu bukan hal baru. Pikirkan Marco Polo. Pikirkan kafilah besar zaman Alkitab dengan muatan sutra dan rempah-rempah mereka. Pikirkan lebih jauh kembali ke manusia prasejarah yang berdagang kerang dan garam dengan suku-suku yang jauh.

Perdagangan ada karena satu kelompok atau negara memiliki persediaan beberapa komoditas atau barang dagangan yang diminta oleh pihak lain. Kemudian tatkala dunia menjadi semakin maju secara teknologi, saat kita bergeser baik dengan cara yang halus atau kasar menuju cara berpikir satu dunia, perdagangan internasional menjadi semakin bermanfaat.

Perdagangan internasional menawarkan banyak manfaat, baik dalam hal keuntungan maupun kepuasan pribadi. Peluang untuk menjelajahi persaingan bisnis skala global kini semakin besar. Tak heran, orang dari berbagai penjuru negeri berlomba agar bisa mengekspansi pasar di antara negara-negara di dunia melalui komoditas tertentu. Hal ini tentunya menjadi peluang menjanjikan untuk memlai petualangan bisnis ekspor di Indonesia.

Namun, sebelum melangkah lebih jauh sebaiknya Anda perlu mengetahui bagaimana statistik bisnis ekspor di Indonesia.

Mengenal Statistik Bisnis Ekspor di Indonesia.

Indonesia adalah negara berpenduduk padat yang berkembang pesat di Asia Tenggara. Indonesia menarik banyak investor baru dan pengusaha internasional untuk berinvestasi di negara ini dan mendirikan operasi mereka di sana.

Banyak pengusaha menyadari bahwa Indonesia memiliki potensi yang sama dengan China seperti pada 2008 sebelum pasar startup meledak. Wilayah ini adalah negara yang kaya akan sumber daya. Pemilik minyak, gas alam, nikel, timah, dan bauksit. Namun masih tergolong berkembang, karena jumlah penduduknya yang besar.

Lebih dari 50 persen dari angkatan kerja terlibat dalam pertanian. Beras adalah makanan pokok, tetapi Indonesia juga mengekspor sejumlah besar karet, teh, kopi, dan rempah-rempah. Industri ekspor dan impor atau perdagangan internasional banyak terlibat dalam pengolahan mineral dan produk pertanian.

Indonesia menempati peringkat ketiga puluh satu atau ke-31 dalam sektor ekspor di perekonomian dunia. Republik Indonesia mengirimkan barang senilai 163,3 dolar AS ke seluruh dunia di tahun 2020 lalu. Jumlah dolar itu mencerminkan kenaikan 13 persen sejak 2016, tetapi penurunan minus 2,6 persen dari 2019 ke 2020.

Indonesia mengimpor barang senilai sekitar 141,6 miliar dolar AS dari seluruh dunia di 2020 lalu, naik 4,4 persen sejak 2016 tetapi turun minus 17,3 persen dibanding rentang 2019 ke 2020. Pasar ekspor utama bagi negara ini adalah Jepang, Amerika Serikat, China, dan Singapura. Di sisi lain, banyak juga mengimpor barang dari Jepang, China, dan Singapura.

Produk ekspor yang dapat dijadikan pilihan untuk bisnis ekspor di Indonesia antara lain minyak dan gas, peralatan listrik, kayu lapis, tekstil, serta karet. Impor utamanya meliputi mesin dan peralatan, bahan kimia, bahan bakar, serta produk makanan. Dengan kata lain, jika ingin mengekspansi paras di Indonesia, cobalah incar keuntungan dari komoditas tersebut.

Indonesia merupakan salah satu pasar yang menarik dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Ini berkat keuntungan dari populasi besar dan berkembang pesat, tingkat urbanisasi senantiasa meningkat, dan permintaan barang-barang konsumsi yang besar.

Kebiasaan konsumsi masyarakat Indonesia memiliki banyak kesamaan dengan masyarakat Asia lainnya. Saat ini, dari pendapatan pribadi sekitar 50 persen dihabiskan untuk makan dan minum. Saat berbelanja, orang sering kali memperhatikan harga yang konsisten dengan kualitas. Namun, masyarakat di sini cenderung lebih memilih produk berbobot rendah, makanan segar, produk bersih.

Lebih jauh, jika Anda bukan orang Indonesia, tetapi ingin melakukan aktivitas bisnis ekspor di Indonesia, perhatikan faktor-faktor berikut.

  1. Indonesia terdiri dari banyak Muslim, jadi jika mengekspor ke pasar ini harus memperhatikan praktik hidup dan peraturan khusus dari penganut agama Islam. Terlebih, secara khusus berkaitan dengan ketentuan halal untuk produk makanan.
  1. Sistem distribusi di Indonesia relatif baik, dimana Anda bisa berkoordinasi dengan para pelaku bisnis lokal di Indonesia untuk mendistribusikan barang. Agar semakin mudah, Anda pun dapat mendirikan kantor perwakilan dan jaringan distribusi barang.
  1. Anda harus memperhatikan bahwa pendapatan orang Indonesia relatif rendah, faktor harga dan promosi sangat penting, serta harus sesuai untuk masyarakat lokal.
  1. Pengusaha Indonesia tenang tapi tidak moderat, mereka menghargai posisinya, memberikan kartu nama saat bertemu.
  1. Untuk membuat kesan yang baik pada mitra, Anda harus memenuhi ekspektasi dan minat mereka. Hadiah serta komisi cukup populer di negara ini, terkadang mitra sendiri yang akan menentukan berapa komisinya. Jika menghadapi situasi demikian Anda tidak perlu merasa heran, tetap santai.
  1. Jangan ke Indonesia saat festival atau perayaan tertentu karena biasanya butuh waktu lama untuk menunggu partner bertemu.

Itulah informasi dasar tentang lingkungan perdagangan internasional di Indonesia. Sebagaimana yang sudah Anda ketahui secara umum tentang pasar Indonesia dan spesifikasinya, berikutnya perlu untuk meninjau apa saja produk teratas yang dapat menjadi acuan untuk memulai bisnis ekspor di Indonesia.

Baca Juga: Cara Agar Produk Bisa Masuk ke Pasar Modern

Beberapa Produk yang Dapat dijadikan Bisnis Ekspor di indonesia

Produk-produk yang dapat dijadikan pilihan bisnis ekspor di Indonesia
sumber gambar: unsplash

1. Bahan bakar mineral termasuk minyak senilai US$42 miliar atau mengambil posisi 23,3 persen dari total ekspor.

Bahan bakar mineral yang di dalamnya termasuk minyak dapat dijadikan sebgai produk unggulan untuk melakukan bisnis ekspor di Indonesia. Hal ini karena Indonesia menempati peringkat ke-20 di antara negara-negara penghasil minyak di dunia, terhitung mengakomodir sekitar satu persen per hari dunia untuk bahan bakar cair.

Ladang minyak tertua dan terbesar di Indonesia adalah Duri, Minas, di Cekungan Sumatera Selatan, dan tambang minyak di Cepu, dengan produksi sekitar 165000 barel per hari.

2. Lemak hewan dan nabati, minyak, lilin senilai US$20,3 miliar atau mengambil posisi 11,3 persen dari total ekspor.

Indonesia dan Malaysia memproduksi 85 persen minyak sawit mentah dunia. Kedua negara tersebut memperoleh banyak keuntungan karena meningkatnya permintaan minyak sawit mentah di dunia sementara pasokannya terbatas.

Namun jika Anda akan baru memulai bisnis ekspor di Indonesia poin ini mesti Anda catat. Sebab meski Indonesia merupakan pengekspor minyak sawit terbesar, ekspor ke Uni Eropa sedang dalam tren menurun. Uni Eropa ingin membatasi penggunaan minyak sawit dalam produksi biofuel untuk mencapai target energi terbarukan.

Uni Eropa bertujuan untuk menghentikan penggunaan minyak sawit pada tahun 2030, bahkan meski proses produksi minyak sawit telah dipastikan tidak berbahaya bagi manusia serta lingkungan.

3. Kulit dan tekstil senilai US$8,9 miliar atau mengambil posisi 4,9 persen dari total ekspor.

Jika Anda adalah produsen kulit dan tekstil, Anda perlu mencoba bisnis ekspor di Indonesia. Dengan pembukaan dan modernisasi yang dilakukan secara kuat, industri tekstil Indonesia menawarkan banyak potensi kerjasama bagi mitra asing. Pameran dagang terkait di Indonesia menarik lebih dari lima ratus sembilan puluh perusahaan dari dua puluh tujuh negara.

Dalam hal ini, termasuk bekerja sama dengan negara-negara terkemuka dunia dalam pembuatan mesin serta produk tekstil seperti China, Jerman, Jepang, Korea, India, dan Swiss.

4. Komponen kendaraan senilai US$7,6 miliar atau mengambil posisi 4,2 persen dari total ekspor.

Produk lain yang dapat dijadikan sebagai bisnis ekspor di Indonesia adalah komponen kendaraan. Sebab tidak dapat dipungkiri, bahwa saat ini Indonesia dan Thailand merupakan dua negara dengan industri mobil dan sepeda motor terbesar di kawasan ASEAN.

Secara khusus, Indonesia adalah produsen komponen dan suku cadang otomotif terbesar dan berpotensi menjadi negara yang mengkhususkan diri dalam pembuatan komponen untuk mobil sport, kendaraan medan, truk ringan, dan sedan. Maka jika Anda ingin memulai bisnis ekspor di Indonesia, menjadi produsen komponen dan suku cadang mungkin akan menguntungkan.

5. Karet, barang karet senilai US$6,4 miliar atau mengambil posisi 3,5 persen dari total ekspor.

Dengan luas lahan sekitar tiga koma lima juta hektar secara nasional, perkebunan karet dapati dijadikan ladang bisnis ekspor di Indonesia karena menyediakan delapan puluh lima persen bahan baku industri karet.

6. Elektronik pribadi, termasuk komputer senilai US$5,9 miliar atau mengambil posisi senilai 3,3 persen dari total ekspor.

Sebagai salah satu negara terbesar di Asia, dengan populasi lebih dari 250 juta orang, Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia. Namun, pembuatan perangkat elektronik khususnya smartphone belum banyak berkembang.

Menurut riset pasar Nielsen tahun lalu, hanya sekitar 23 persen orang di sini yang memiliki smartphone. Tetapi jumlah ini tumbuh secara eksponensial. Pabrik baru Foxconn di Indonesia akan memproduksi handset, khususnya smartphone, untuk memenuhi kebutuhan bangsa sendiri.

Foxconn sering bekerja dengan produsen elektronik untuk memproduksi perangkat genggam, tablet, dan TV.

7. Permata, logam mulia senilai US$5,6 miliar atau mengambil posisi 3,1 persen dari total ekspor.

Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang kaya akan mineral, terutama batu permata. Ini merupakan pasar potensial baru bagi para operator dan bisnis perhiasan di tanah air, sehingga memilih ini sebagai bisnis ekspor di Indonesia anda adalah hal yang masuk akal. Indonesia adalah pesaing India dengan permata dan Yahudi, kedua negara memiliki simpanan batu mulia nasional mereka.

Tak hanya pelanggan domestik, wisatawan mancanegara pun menyukai batu permata Indonesia. Ini adalah kesempatan yang menguntungkan bagi perhiasan untuk memperluas pasar dan mempromosikan merek.

8. Bijih, terak, abu senilai US$5,3 miliar atau mengambil posisi 2,9 persen dari total ekspor.

Indonesia telah mengekspor 33 juta ton nikel serta 40 juta ton bauksit dan saat ini merupakan eksportir timah terbesar di dunia. Menjadikan produk bijih, terak, dan abu sebagai bisnis ekspor di Indonesia Anda pasti akan menjanjikan.

Untuk batu bara, pemerintah Indonesia akan mengeluarkan aturan pengendalian ekspor, sedangkan 14 mineral harus mematuhi aturan baru tersebut. Ini adalah tembaga, emas, perak, timah, timah, kromium dan transparan, bauksit, bijih besi dan pasir, besi, nikel, molibdenum, mangan, dan antimon.

Batubara sebagai bisnis ekspor di Indonesia telah diekspor ke Korea Selatan, Filipina, Jepang, Cina, Malaysia, India, Pakistan, Thailand, dan Italia.

9. Alas kaki senilai US$5,1 miliar atau 2,8 persen dari total ekspor.

Produk terakhir yang disarankan untuk dijadikan sebagai bisnis ekspor di Indonesia adalah alas kaki. Indonesia menduduki peringkat keempat dalam produksi sepatu setelah China, India, dan Vietnam. Industri topi kulit Indonesia menghadapi banyak kesulitan karena mengimpor lebih dari enam puluh persen bahan baku untuk diproduksi.

Ke depan, negara ini akan meningkatkan impor bahan kulit dari Malaysia, Myanmar, Timur Tengah, dan Afrika. Industri alas kaki diprioritaskan karena perkembangannya sebagai industri padat karya berorientasi ekspor.

Seiring dengan industri tekstil dan pakaian jadi, industri alas kaki juga akan memasuki era Industri 4.0, untuk mampu bersaing secara global dan meningkatkan ekspor. Perkembangan tersebut dapat dijadikan patokan untuk Anda jika memiliki alas kaki sebagai bisnis eskpor di Indonesia.

Prosedur Bisnis Ekspor di Indonesia.

Aturan-aturan prosedural untuk menjalankan ekspor atau melaksanakan aktivitas ekspor lainnya penting untuk diketahui oleh semua pelaku bisnis ekspor di Indonesia.

Perusahaan di Indonesia, baik milik lokal atau asing (PMA), yang ingin mengirim barang mereka ke luar negeri termasuk melaksanakan bisnis ekspor di Indonesia tunduk pada serangkaian prosedur ekspor sesuai kebijakan setempat. Ketentuan pokok tersebut terutama tertuang dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

Selain itu, ada pula Peraturan Menteri Keuangan Nomor 145/PMK.04/2007 tentang Ketentuan Kepabeanan Untuk Ekspor, dan Perubahannya, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 148/PMK.04/2011, serta sejumlah peraturan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Untuk melakukan kegiatan ekspor, perusahaan harus sudah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan salah satu izin usaha sebagai berikut.

  1. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dari Kementerian Perdagangan.
  2. Izin Manufaktur dari Kementerian Perindustrian, atau izin lain yang dikeluarkan oleh instansi terkait.
  3. Izin PMA dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
  4. Nomor Pengenal Eksportir (APE).

Calon eksportir baik itu yang akan melaksanakan bisnis ekspor di Indonesia atau bukan juga harus terlebih dahulu menentukan kelayakan ekspor barang terkait dan peraturan khusus yang mungkin berlaku untuk barang tersebut di Indonesia maupun di negara tujuan.

Sebagai contohnya, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 97/M-DAG/PER/12/2014 tentang Ketentuan Ekspor Produk Kehutanan mengatur tentang jenis produk industri tertentu yang diperbolehkan untuk diekspor, yaitu produk kayu olahan dan turunannya, dan produk jadi rotan.

Selain itu, mengatur pula hal-hal yang berkaitan dengan kepada eksportir terdaftar, badan teknis terkait, serta berbagai prosedur dan dokumen yang diperlukan. Secara umum, mungkin ada pembatasan kuota, larangan, atau kondisi yang diatur dan akan dikenakan untuk jenis barang tertentu.

Ketika ketersediaan pembeli, sistem pembayaran (Konsinyasi, L/C, dll.), dan kelayakan barang telah dikonfirmasi, calon eksportir dapat melanjutkan dengan pengemasan dan penjadwalan pengiriman. Salah satu langkah penting berikutnya adalah eksportir menyampaikan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) ke Kantor Bea dan Cukai.

PEB beserta beberapa dokumen yang menyertainya, antara lain invoice, packing list, dan dokumen dari instansi teknis terkait, diperlukan untuk mendapatkan persetujuan ekspor akhir. PEB harus disampaikan paling lambat tujuh hari sebelum jadwal ekspor atau paling lambat pada saat barang masuk ke dalam daerah pabean.

Setelah dilakukan pemeriksaan atas kelayakan eksportir dan produk, serta kelengkapan dan keabsahan dokumen, dan PEB dinyatakan sah, eksportir akan diberikan pemberitahuan persetujuan ekspor (NPE). Penerbitan NPE secara efektif mengklasifikasikan barang tersebut sebagai barang yang dikliringkan untuk ekspor, sehingga dapat dimuat ke moda transportasi.

Perlu dicatat bahwa dalam hal pajak tertentu dipungut atas barang yang dimaksudkan untuk ekspor, eksportir harus membayar jumlah penuh sebelum memuat kargo untuk pengiriman. Komponen utama penghitungan pajak dalam hal ini adalah Harga Patokan Ekspor (HPE) sebagaimana diatur oleh Kementerian Perdagangan.

Pemerintah Indonesia telah membentuk dua perusahaan milik negara dengan fungsi sebagai penyedia jasa keuangan bagi perusahaan yang ingin mengekspor barangnya, yakni Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), juga disebut Indonesia Eximbank, untuk kebutuhan pembiayaan, dan Asuransi Ekspor Indonesia untuk manajemen risiko.

Peraturan di negara ini juga menentukan pemeriksaan fisik wajib untuk barang-barang ekspor dengan kategori tertentu, misalnya ekspor barang untuk diimpor kembali di masa mendatang. Jika Anda memang benar-benar ingin melaksanakan bisnis ekspor di Indonesia, informasi lebih lanjut mengenai hal tersebut bisa Anda cek di website milik lembaga pemerintah berwenang.

Jika terjadi pelanggaran melawan hukum terhadap ketentuan PEB dapat menimbulkan sejumlah akibat hukum, di antaranya kegiatan ekspor tanpa menyerahkan PEB dipidana dengan pidana penjara 1-10 tahun dan denda Rp50 juta-5 miliar.

Selanjutnya, PEB palsu atau tidak benar diancam dengan pidana penjara 2-8 tahun dan denda Rp 100 juta-5 miliar. Keterlambatan atau tidak melaporkan pembatalan kegiatan ekspor dikenakan denda administrasi sebesar Rp5 juta.

Tidak hanya itu, pemberian keterangan yang tidak benar mengenai jenis dan/atau jumlah barang ekspor dikenakan denda sebesar 100-1.000 persen dari pungutan ekspor yang belum dibayar.

Mengingat ketatnya aturan impor dan ekspor di Indonesia, maka pastikan Anda sudah memahami semua ketentuan yang berlaku jika ingin melakukan bisnis ekspor di Indonesia, serta tidak sembarangan melanggarnya. Pada prinsipnya, setiap negara punya aturan masing-masing dan sebagai pebisnis harus siap menghadapi hal itu dengan penuh tanggung jawab.

Demikianlah statistik dan prosedur-prosedur yang harus dijalani jika ingin memulai bisnis ekspor di Indonesia.

Jika Anda masih merasa bingung mengenai cara mengatur rantai pasokan, maka solusinya adalah memanfaatkan Aplikasi SimpliDOTS. Sebuah layanan software berbasis cloud, Aplikasi SimpliDOTS yang berkomitmen membantu perusahaan mengembangkan sistem distribusi barang secara tepat.

SimpliDOTS memiliki software Delivery & Route Optimization yang dapat mengoptimasi rute last mile delivery ke berbagai tujuan hanya dalam hitungan menit. Ayo, mulai aja dulu! Jika masih ragu silakan dicoba demo dengan fitur lengkap FREE Trial 14 hari, klik tautan ini sekarang!

Anda juga bisa mendapatkan informasi yang terupdate setiap harinya di laman instagram kami, silakan berkunjung.